- Kebijakan Pemerintah Tentang Pelaksanaan Kesehatan Haji 2020 - Dr. dr. Eka Jusuf Singka, MSc.
- Penyelenggaraan Kesehatan Haji Provinsi Sulsel - Kadis Kesehatan Sulsel
- Peningkatan Kapasitas dan Kesehatan Fisik Jamaah Haji - dr. Harry Aksa Putrawan, Sp. P.
- Sinergi PPIH-TKHI dalam memberikan Pembinaan dan Perlindungan Kepada Jamaah Haji - dr. Erwinsyah, MH., M.Kes.
- Peran Perawat dalam Pelayanan Kegawatdaruratan Jamaah Haji di Arab Saudi - Wahyudi Hidayat, S.Kep., NS.
Sabtu, 09 November 2019
Materi Seminar Nasional Kesehatan Haji 2019
Jumat, 06 September 2019
Minggu, 28 Oktober 2018
Materi Seminar Haji 2018:
1. Materi Kapuskes Haji
2. Materi IDI 1
3. Materi IDI Patient Safety
4. Materi Rekruitment Petugas Haji
5. Materi Pola Operasi ARMINA
6. Materi Pembinaan, Pelayanan dan Perlindungan
7. Materi Peran Perawat Dalam Pelayanan Kesehatan Haji
Selasa, 03 Oktober 2017
EDISI II: ROKOK DAN IBADAH HAJI
Artikel
bebas ini ditulis sebagai bentuk kepedulian dan juga keprihatinan penulis sebagai petugas
haji Indonesia (PPIH dan TKHI) yang selama bertugas banyak menyaksikan jamaah
haji Indonesia mengalami gangguan kesehatan yang sedikit banyak asap rokok
sebagai faktor predisposisi ataupun faktor presipitasi (Penyebab dan pemicu),
disamping faktor-faktor lain yang sudah melekat pada jamaah haji sejak
keberangkatan dari tanah air. Besar harapan nantinya aturan terhadap rokok jamaah haji dapat dibuat dan diterapkan demi tercapainya jamaah haji yang
sehat, bugar dan mabrur, diantaranya adalah larangan membawa rokok baik oleh
jamaah, petugas haji ataupun pihak maskapai yang selama ini disinyalir menjadi
bisnis oknum tertentu.
Suara Alarm hotel berbunyi dengan suara yang sangat
keras dan membuat panik seluruh jamaah haji yang baru saja memasuki ruang hotel
lantai 4 di Mekkah waktu itu, ternyata bunyi keras itu berasal dari Smoke
Detector yang dipasang oleh pihak hotel dilangit-langit setiap lantai untuk
mendeteksi asap. Setelah dilakukan
penelusuran ada jamaah yang baru saja merokok dan bekas
asapnya masih terdeteksi sensor.
Di Indonesia bukan hal yang aneh lagi, saat ini kebiasaan merokok merupakan hal yang
mudah dilakukan oleh siapa saja, dimana
saja dan kapan saja. Aturan mengenai rokok tampaknya belum dapat diterapkan
secara maksimal, disamping berbagai pertimbangan ekonomi dan sosial bagi
masyarakat dan negara. Rokok merupakan
masalah komplek yang penyelesaiannya juga membutuhkan action dan energy yang besar.
Regulasi tentang rokok dibeberapa negara memberi batasan kepada penduduknya
untuk tidak merokok
secara bebas
seperti di negara kita. Di negara Malaysia yang masih sangat dekat dengan
Indonesia saja kondisinya yang sangat berbeda, pemerintah Malaysia melarang
rokok dijual bebas, hanya toko tertentu
yang boleh menjual rokok itupun dengan harga yang sangat mahal disertai dengan
pesan-pesan peringatan yang menakutkan, hal ini menyebabkan masyarakat tidak mudah membeli rokok karena berbagai pertimbangan.
Merokok adalah kebiasaan hidup yang tidak
sehat, dalam sebatang rokok terkandung berbagai racun yang berbahaya bagi tubuh
dan kesehatan. Lebih dari 4000 bahan kimia yang ratusan diantaranya merupakan
zat beracun, diantaranya adalah acetone
(penghapus cat), metanol (bahan bakar roket), nikotin
(masuk ke dalam tubuh akan mengurangi kadar oksigen yang masuk dalam
darah, zat ini bersifat candu,
mempercepat detak jantung dan penghambat rasa lapar), naphtalen (kapur barus), cadmium
(dipakai untuk aki mobil), acrolein (zat
berbentuk cair dan tidak berwarna diperoleh dari gliseril, mengandung alkohol), carbon monoksida (gas dari knalpot,
mengikat diri pada Hb dalam darah sehingga menjadi penghalang penyediaan
oksigen menyebabkan mudah lelah), benzopyrene
(carciogenic /pemicu kanker), vinyl chloride (bahan plastik PVC), tar (kandungan ikut terhisap dan
mengendap di paru-paru memberikan dampak negatif pada kinerja rambut kecil yang
melapisi paru yang berfungsi untuk membersihkan kuman dan hal lain yang keluar
dari paru), hidrogen cyanida (racun
untuk hukuman mati), amonia (pembersih
lantai), toeluen (pelarut industri), arsenic (racun semut putih), phenol (pemicu kanker), butane (bahan bakar korek api), pyridine (pembunuh hama) dan masih
sangat banyak kandungan beracun lainnya.
Kamis, 28 September 2017
EDISI I: IMPLEMENTASI ISTITHAAH KESEHATAN HAJI 1438H
Ada beberapa pertanyaan dan pernyataan dari calon jamaah haji yang sering kita dengar saat menjelang keberangkatan, diantara adalah pernyataan 'Kami ke Tanah Suci untuk meninggal disana', 'Petugas haji bertugas mengurus kami apapun kondisi kami saat berada di Tanah Suci', 'Kami keluarga jamaah sudah mengikhlaskan keluarga kami terhadap semua risiko selama perjanan ibadah haji keluarga kami'. Pertanyaan diantaranya Apakah orang sakit tidak
boleh beribadah? Bukankah beribadah itu hak semua orang? apalagi kami sudah antri
sejak 10 tahun yang lalu, keluh Seorang ibu muda yang suaminya menderita
penyakit gagal ginjal dan sudah 7 tahun menjalani cuci darah secara rutin. Ibu
tersebut mengatakan suaminya tetap bisa aktivitas seperti biasa, bahkan masih
mengajar dan berangkat sendiri ketika mau cuci darah, sebuah kenyataan yang
sulit untuk diterima.
Ibadah haji merupakan
rukun Islam kelima dan tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bisa
berangkat ke Tanah Suci. Seorang istri berusaha memperjuangkan suami yang
terancam tidak bisa berangkat haji bersamanya. Rasanya ikut prihatin ketika
calon jemaah haji sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kesehatannya namun
hasil pemeriksaan tidak memenuhi syarat kesehatan. Ibadah haji merupakan ibadah
fisik, yang dalam kenyataannya setiap aktivitas yang dilaksanakan membutuhkan
kondisi tubuh yang sehat.
Judul surat :
Jamaah Haji Indonesia
Minggu, 16 Juli 2017
JENIS-JENIS LUKA (VULNUS)
Untuk memudahkan Identifikasi luka, berikut nama jenis luka dan penjelasannya:
1. Vulnus Laceratum (Laserasi)
Vulnus Laceratum atau di singkat “VL” adalah luka yang mengakibatkan robek pada kulit dengan identifikasinya memiliki dimensi panjang, lebar dan dalam. Biasanya Vulnus Laceratum diakibatkan karena terjatuh, terkena ranting pohon, terkena batu sehingga menimbulkan robekan pada kulit.
2. Vulnus Excoriasi (Luka Lecet)
Vulnus Excoriasi atau di singkat “VE” adalah luka yang di akibatkan terjadi gesekan dengan benda keras
1. Vulnus Laceratum (Laserasi)
Vulnus Laceratum atau di singkat “VL” adalah luka yang mengakibatkan robek pada kulit dengan identifikasinya memiliki dimensi panjang, lebar dan dalam. Biasanya Vulnus Laceratum diakibatkan karena terjatuh, terkena ranting pohon, terkena batu sehingga menimbulkan robekan pada kulit.
2. Vulnus Excoriasi (Luka Lecet)
Vulnus Excoriasi atau di singkat “VE” adalah luka yang di akibatkan terjadi gesekan dengan benda keras
Jumat, 30 Juni 2017
MENGENAL LEBIH DALAM BRUGADA SYNDROME
Belum lama ini, Journal of the American College of Cardiology (Vol 41, 2003) memuat sebuah artikel khusus memperingati 10 tahun sindrom Brugada. Sindrom Brugada adalah suatu jenis abnormalitas elektrik jantung bawaan yang secara tragis dapat merenggut nyawa laki-laki usia sekitar 30 saat terlelap tidur.
Seperti halnya sindrom QT panjang, penderita sindrom Brugada sebelumnya sehat-sehat saja bahkan faktor-faktor risiko penyakit jantung koroner mungkin tidak ditemukan dan struktur jantungnya juga normal.
Kelainan ini sebenarnya dapat terdeteksi melalui elektrokardiografi (EKG), yaitu peralatan medis sederhana yang berfungsi merekam irama jantung. Abnomalitas irama jantung sindrom Brugada adalah adanya blok berkas jantung kanan (Right Bunddle Branch Block, RBBB) dengan elevasi segmen ST di sandapan jantung kanan yang kadang tidak kentara.
Sebelumnya, abnormalitas ini kurang begitu dipedulikan para dokter karena orangnya sehat dan bugar hingga Brugada bersaudara dari Barcelona, yaitu Pedro dan Josep Brugada, tahun 1992 mendeteksi adanya keterkaitan abnormalitas EKG tersebut. Mereka menemukan adanya kematian dan serangan aritmia (gangguan listrik jantung) ganas pada delapan pasien dengan struktur jantung yang normal.
Sabtu, 25 Juli 2015
Pramugari pertama di dunia Ellen Church (1904 – 1965) adalah seorang PERAWAT
Sejak Wright Bersaudara menorehkan sejarah “12 detik yang mengubah dunia” pada 17 Desember 1903 dengan menerbangkan pesawat terbang bermesin pertama, dunia penerbangan mulai menggeliat.
Awalnya, sampai dengan akhir Perang Dunia I, pesawat tempurlah yang mulai berkembang. Setelah itu, pada dekade 1920-an, pesawat terbang sipil mulai berkembang, di antaranya dipelopori oleh William Boeing yang mendirikan industri pesawat terbang Boeing di Seattle, Amerika Serikat pada 1916, dan Anthony Fokker –orang Belanda kelahiran Madiun, Indonesia– yang mendirikan industri pesawat terbang Fokker di Belanda pada tahun 1919.
Akan tetapi, sepanjang dasawarsa 1920-an tersebut penerbangan komersil berkembang dengan lambat meskipun perlahan-lahan mulai populer sebagai sarana transportasi. Salah satu alasan mengapa transportasi udara kurang populer, adalah kenyataan bahwa orang merasa transportasi udara masih merupakan moda transportasi yang berbahaya .
Untuk dapat mengalihkan penumpang kereta api menjadi penumpang pesawat terbang, tentunya maskapai penerbangan harus dapat meyakinkan bahwa transportasi udara adalah moda transportasi yang aman. Salah seorang yang berjasa mengubah citra transportasi udara adalah Ellen Church.
Dilahirkan di Cresco, Iowa, Amerika Serikat pada 22 September 1904, Ellen Church adalah seorang perawat (registered nurse) yang karena ketertarikannya yang tinggi terhadap dunia penerbangan, juga menjadi seorang penerbang (pilot).
Sebenarnya, ketika Church melamar bekerja di Boeing Air Transport (BAT) –yang kemudian menjadi United Airlines– awalnya dia melamar sebagai pilot. Akan tetapi, alih-alih mengontrak Church sebagai pilot, Steve Stimpson, seorang pejabat BAT, justru melihat hal yang lebih menjanjikan dari ide Ellen Church yang lain, yaitu menempatkan perawat sebagai pramugari (stewardess/flight attendant) di dalam pesawat terbang, yang bertugas untuk menenangkan penumpang yang takut terbang.
Meramalkan publisitas yang hebat yang akan terjadi dengan menempatkan perawat sebagai pramugari, Stimpson menjual ide tersebut kepada atasannya.
Pada tahun 1930, Boeing Air Transport memulai sesuatu yang pada waktu itu dianggap sebagai percobaan yang berani dengan mengontrak delapan orang perawat –dikenal dengan istilah The Original Eight– sebagai pramugari dengan masa percobaan terbang selama tiga bulan. Ellen Church menjadi kepala pramugari.
Pada tanggal 15 Mei 1930, Ellen Church menjadi pramugari pertama di dunia yang menerbangi rute Oakland ke Chicago. Adanya pramugari merupakan sukses yang tak terbantahkan bagi BAT. Dalam waktu tiga tahun, berbagai maskapai penerbangan mengikuti jejak BAT dengan menempatkan pramugari pada pesawat terbangnya.
Persyaratan menjadi pramugari pada tahun 1930-an sangat ketat. Selain harus seorang perawat, pramugari juga haruslah wanita yang masih lajang, usia lebih muda dari 25 tahun, berat kurang dari 115 pon (sekitar 52 kg) dan tinggi kurang dari 5 kaki 4 inci (sekitar 162, 56 cm). Pramugari pada masa itu jauh dari kesan glamor. Selain bertugas melayani penumpang, pramugari sering kali harus mengangkat koper-koper penumpang ke dalam pesawat, mengencangkan baut-baut kursi yang kendur, mengisi bahan bakar pesawat, bahkan membantu mendorong pesawat masuk ke hanggar ! Untuk pelayanan tersebut, pramugari digaji 125 dolar AS per bulan.
Meski Ellen Church berjasa membuka jalan bagi wanita untuk bergelut di dunia penerbangan, dia menjadi pramugari selama delapan belas bulan. Sesudah kecelakaan mobil yang mengakhiri kariernya sebagai pramugari, Church meraih gelar bachelor degree dari University of Minnesota dan meneruskan kariernya sebagai perawat.
Pada tahun 1942, selama Perang Dunia ke II, Ellen Church kembali ke angkasa sebagai flight nurse pada Army Nurse Corps dan dianugerahi Air Medal atas kepatriotannya selama perang.
Setelah PD II usia, Church pindah ke Terre Haute, Indiana, menjadi Direktur di Union Hospital dan menikah dengan Leonard Briggs Marshall, Direktur Utama Terre Haute First National Bank pada 1964.
Ellen Church meninggal pada 22 Agustus 1965 karena kecelakaan jatuh dari kuda. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, bandar udara di kota kelahirannya Cresco, Iowa, diberi nama Ellen Church Field.
Pikiran Rakyat, 23 Juli 2009
Langganan:
Postingan (Atom)









